Kisah Saat Do’a Mustajab dalam Islam Membuka Pintu Keberkahan

Hits: 6

Ringkasan Singkat: Do’a mustajab dalam Islam adalah doa yang dijamin diterima Allah dan mengandung janji terkabul menurut ajaran syariat. Menurut 13 hadits sahih, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa doa setelah shalat fardhu, terutama pada waktu sahur dan setelah maghrib, memiliki peluang terkabul tertinggi.

Do’a ku terhenti di sudut kamar kecil ketika pintu rumah terbangun retak, menandakan kebocoran air yang mengancam lemari kayu warisan nenek. Aku mengangkat tangan, berbisik “Ya Allah, selamatkan rumahku,” dan menunggu dalam diam yang menegangkan. Detik‑detik itu, suara gemericik air tiba‑tiba terhenti, seakan doa itu menembus hati-Nya.

do’a mustajab dalam islam adalah permohonan yang Allah jawab karena niatnya tulus, dilandasi kehati‑hatian, serta disertai ketaatan pada syariat. Hal ini bukan sekadar ritual, melainkan ikatan spiritual antara hamba dan Sang Pencipta yang menuntun pada keberkahan duniawi maupun ukhrawi. Do’a yang mustajab tidak muncul begitu saja; ia memerlukan persiapan hati, bahasa, serta waktu yang tepat.

Pengalaman itu mengingatkanku pada sebuah artikel di www.EmirzalAndis.com yang menuturkan betapa sebuah do’a sederhana dapat memecah kebuntuan hidup. Dari situlah kutemukan cara menguatkan doa, dan kini aku berbagi langkah‑langkah itu agar kamu tak lagi meraba‑raba dalam gelap kebingungan.

Informasi Tambahan

baca info selengkapnya di sini

do'a mustajab dalam islam

Apa itu do’a mustajab dalam islam

Do’a mustajab dalam islam berarti permohonan yang Allah SWT jawab karena keikhlasan dan kepatuhan si pemohon. Kunci utama terletak pada niat yang bersih, melupakan kepentingan duniawi, dan menyesuaikan doa dengan ajaran Al‑Quran serta sunnah. Misalnya, ketika seorang ibu memohon kesehatan bagi anaknya sambil menunaikan shalat sunnah, ia menelusuri jalan doa yang diakui oleh para ulama.

Pentingnya pemahaman ini terletak pada kemampuan doa mengubah takdir yang tampak keras menjadi lembut. Ketika hati benar‑benar ikhlas, doa menjadi jembatan yang menghubungkan keinginan manusia dengan rahmat Ilahi. Contoh nyata datang dari sahabat Nabi yang menolak perang, lalu Allah mengganti permohonannya menjadi kemenangan yang damai.

Di situs www.EmirzalAndis.com, penulis menekankan bahwa keberkahan tidak datang tanpa usaha. Ia mencontohkan seorang pelajar yang menggabungkan doa pada malam Idzhar dengan belajar tekun, sehingga nilai ujian naik drastis. Do’a menjadi energi positif yang memotivasi aksi nyata, bukan sekadar menunggu mukjizat.

Berikut beberapa prinsip yang harus dipegang agar do’a menjadi mustajab:

  • Berdoa pada waktu yang dianjurkan, seperti sepertiga malam terakhir atau setelah salat fardhu.
  • Menggunakan bahasa yang lugas, menghindari berlebihan namun tetap mengandung rasa hormat.
  • Menjaga diri dari dosa besar, karena dosa dapat menutup pintu do’a.
  • Memperbanyak dzikir dan istighfar sebagai sarana penyucian hati.

Mengapa Do’a Mustajab Menjadi Penopang Kehidupan Sehari-hari

Do’a mustajab menjadi penopang hidup karena ia memberi rasa aman dan harapan ketika tantangan melanda. Tanpa doa, manusia cenderung mengandalkan hanya pada upaya duniawi, yang kadang terasa kosong. Do’a menyuntikkan ketenangan, sehingga keputusan yang diambil terasa lebih bijak.

Contoh sehari‑hari terlihat pada seorang karyawan yang menghadap deadline berat. Ia menutup mata sejenak, berdoa memohon kelancaran, lalu kembali bekerja dengan fokus yang meningkat. Hasilnya, proyek selesai tepat waktu dan atasan memberi pujian, menegaskan bahwa doa yang mustajab membuka pintu keberkahan.

Anda juga dapat menemukan inspirasi visual tentang kekuatan doa di kanal YouTube 3DuniaIndigo, di mana para pembicara membagikan kisah nyata yang menguatkan hati. Video‑video tersebut memperlihatkan bagaimana doa mengubah nasib, memberi bukti bahwa keajaiban tidak jauh dari kehidupan kita.

Dalam konteks Islam, do’a mustajab menegaskan hubungan langsung antara hamba dan Allah yang tak terhalang oleh perantara. Ini mengajarkan bahwa setiap langkah, baik kecil maupun besar, dapat diiringi dengan permohonan yang tulus. Dengan rutin mengamalkan doa, kita menyiapkan diri untuk menerima berkah yang tak terduga.

Secara praktis, berikut cara mengintegrasikan do’a mustajab dalam rutinitas harian:

  • Mulai hari dengan doa “Bismillahirrahmanirrahim” untuk melindungi segala aktivitas.
  • Selipkan doa singkat sebelum makan, bekerja, atau berinteraksi dengan orang lain.
  • Luangkan waktu 5‑10 menit setelah shalat untuk berdoa secara pribadi, menyesuaikan permohonan dengan kebutuhan hati.
  • Catat doa‑doa yang sudah terkabul sebagai pengingat bahwa Allah selalu mendengar.

Setelah menuliskan catatan doa‑doa yang sudah terkabul, langkah selanjutnya adalah memperkuat kualitas doa agar menjadi lebih mustajab. Di sinilah praktik‑praktik yang diangkat oleh www.EmirzalAndis.com menjadi panduan hidup yang dapat diterapkan secara mudah.

Cara Praktis Memperkuat Do’a Agar Lebih Mustajab (Inspirasi dari EmirzalAndis.com)

Konsep utama yang disampaikan EmirzalAndis.com adalah konsistensi dan keikhlasan. Do’a tidak hanya sekadar rangkaian kata, melainkan dialog batin yang menghubungkan hati hamba dengan Allah SWT. Ketika hati terasa bersih dan niat terarah, energi spiritual yang dihasilkan menjadi lebih kuat.

Mengapa konsistensi penting? Karena Allah menilai ketulusan melalui kebiasaan, bukan sekadar momen sesekali. Seorang muslim yang menjadikan doa sebagai bagian rutin hariannya—misalnya setelah shalat fardhu—menunjukkan komitmen yang tidak terpengaruh oleh keadaan eksternal. Contohnya, seorang mahasiswa yang setiap selesai kuliah menyempatkan 5 menit berdoa memohon kelancaran ujian, kemudian merasakan peningkatan fokus ketika mengerjakan soal.

  • Bangun dengan niat: Saat sahur atau sebelum bangun tidur, ucapkan doa “Bismillahirrahmanirrahim” dengan penuh harap. Ini menyiapkan mental untuk hari yang produktif.
  • Gunakan dzikir singkat: Membaca “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar” sebanyak 33 kali setelah shalat dapat menambah kekhusyukan doa utama.
  • Catat permohonan spesifik: Tuliskan doa dalam buku kecil, misalnya “Ya Allah, mudahkan proses mencari pekerjaan”. Menulis mengunci niat di pikiran.
  • Evaluasi tiap minggu: Tinjau doa‑doa yang terkabul dan yang belum, lalu sesuaikan cara penyampaian agar lebih sesuai dengan kehendak Allah.

Contoh nyata yang dibagikan EmirzalAndis.com melibatkan seorang ibu rumah tangga yang rutin berdoa sebelum menyiapkan makanan untuk keluarga. Ia menambahkan doa “Ya Allah, berikan kami rezeki yang halal dan berkah”. Hasilnya, ia tidak hanya merasakan keberkahan dalam hidangan, tetapi juga menemukan kesempatan usaha katering kecil‑kecilan yang berkembang menjadi sumber pendapatan tambahan.

Praktik lain yang sering diulang adalah memanfaatkan waktu sahur dan tarawih pada bulan Ramadan. Do’a di waktu‑waktu ini memiliki keutamaan karena pintu rahmat Allah terbuka lebar. EmirzalAndis.com menekankan agar setiap muslim menyiapkan doa khusus “do’a mustajab dalam islam” pada saat berbuka, memohon kesehatan, ketenangan, dan keberkahan bagi diri serta orang terdekat.

Dengan mengikuti langkah‑langkah praktis ini, doa tidak lagi menjadi sekadar harapan, melainkan sebuah strategi spiritual yang terukur. Kesederhanaan rutinitas, didukung oleh niat tulus, membuat doa menjadi magnet keberkahan yang menembus segala rintangan duniawi.

Kesalahan Umum yang Membatalkan Keberkahan Do’a

Setiap tindakan doa yang tidak sadar dapat menurunkan efektivitasnya. Berikut beberapa kesalahan yang sering muncul, sekaligus cara menghindarinya agar “do’a mustajab dalam islam” tetap mengalir lancar.

1. Do’a tanpa khushu’. Membaca doa sambil terganggu oleh gadget atau pikiran lain mengurangi konsentrasi. Allah menilai hati yang terfokus, bukan sekadar lisan yang melantun. Contoh: Seorang pekerja yang mengucapkan doa di tengah rapat sambil menatap layar komputer cenderung tidak merasakan jawaban doa.

2. Harapkan hasil instan. Do’a bukan mesin otomatis yang menurunkan hasil dalam hitungan menit. Ketika seseorang mengharapkan jawaban segera tanpa bersabar, rasa kecewa bisa menutupi keberkahan yang sedang datang. Seorang pelajar yang terus memohon nilai A tanpa belajar keras akhirnya merasa frustasi ketika hasilnya tidak sesuai harapan.

3. Berdoa sambil melakukan dosa. Meminta ampun sambil tetap melanggar perintah Allah menimbulkan kontradiksi. Doa harus didampingi dengan usaha memperbaiki diri. Misalnya, seseorang yang memohon pekerjaan yang baik namun tetap menunda ibadah wajib akan menemukan hambatan dalam proses pencarian kerja.

4. Melupakan shalat sebagai fondasi. Shalat adalah tiang utama yang menegakkan doa. Tanpa shalat, doa menjadi seperti rumah tanpa pondasi; mudah roboh. Seorang muslim yang meninggalkan shalat berjamaah dan kemudian berdoa secara pribadi seringkali mengalami kebingungan spiritual.

Baca Juga: Daftar Menjadi Tim Relawan Andis 2020

5. Menggunakan bahasa yang tidak dimengerti hati. Do’a dalam bahasa yang terasa asing atau dipaksakan dapat menurunkan keikhlasan. Allah memahami bahasa hati, bukan sekadar susunan kata. Seseorang yang berdoa dalam bahasa asing tanpa memahami maknanya mungkin tidak merasakan kedalaman hubungan dengan Allah.

Untuk menghindari kesalahan‑kesalahan ini, EmirzalAndis.com menyarankan tiga langkah sederhana:

  • Persiapkan ruang hati: Sebelum berdoa, tarik napas dalam, tutup mata, dan fokuskan pikiran pada Allah.
  • Selaraskan perilaku: Pastikan tindakan sehari‑hari tidak bertentangan dengan permohonan doa, sehingga energi positif mengalir konsisten.
  • Berdoa dengan bahasa hati: Gunakan kata‑kata yang Anda rasakan, bukan sekadar rangkaian formalitas.

Dengan mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan umum, “do’a mustajab dalam islam” menjadi lebih mudah dijangkau. Setiap muslim dapat merasakan aliran keberkahan yang tak terputus, baik dalam urusan pribadi maupun dalam interaksi sosial. Kunci utamanya tetap pada keikhlasan, konsistensi, dan keselarasan antara doa serta tindakan. Karena pada akhirnya, doa yang mustajab membuka pintu keberkahan bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk orang‑orang di sekitar kita.

Setelah menelusuri segala dimensi “do’a mustajab dalam islam”—dari definisi teologis hingga tantangan praktis—saatnya menyentuh langkah nyata yang dapat kamu terapkan hari ini. Bagian praktis ini dirangkum dari pengalaman para pencari keberkahan di www.EmirzalAndis.com, sehingga kamu tak hanya membaca teori, melainkan merasakan perubahan dalam hidup.

Cara Praktis Memperkuat Do’a Agar Lebih Mustajab (Inspirasi dari EmirzalAndis.com)

  • Siapkan Ruang Hati – Duduklah di tempat tenang, tarik napas dalam tiga kali, tutup mata, dan fokuskan niat pada Allah. Biarkan pikiran mengalir bebas tanpa gangguan duniawi.
  • Konsistensi Waktu – Pilih dua momen utama: setelah shalat fardhu dan sebelum tidur. Kedua waktu ini memiliki energi spiritual yang tinggi, memudahkan doa naik ke Langit.
  • Bahasa Hati – Gunakan kata‑kata yang terasa alami di dalam hatimu, bukan sekadar rangkaian formalitas. Allah lebih mendengar keikhlasan daripada retorika.
  • Selaraskan Perilaku – Pastikan tindakan harian tidak berlawanan dengan permohonanmu. Misalnya, bila memohon rezeki, hindari menunda pekerjaan atau menolak peluang yang datang.
  • Do’a Bersama – Berdoa bersama keluarga atau sahabat dapat memperkuat niat kolektif. Rasulullah ﷺ mencontohkan pentingnya doa kolektif dalam banyak peristiwa.
  • Jurnal Do’a – Catat doa‑doa yang kamu ucapkan, tanggal, dan hasil yang muncul. Jurnal memberi kamu bukti nyata tentang keberkahan yang terbuka.

Dengan mengeksekusi enam langkah ini secara konsisten, “do’a mustajab dalam islam” tidak lagi sekadar harapan, melainkan realitas yang terasa dalam setiap napas kehidupanmu.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang do’a mustajab dalam islam

Apa yang dimaksud dengan do’a mustajab?

Do’a mustajab adalah doa yang dijawab Allah secara langsung atau melalui tanda-tanda kebijaksanaan-Nya, biasanya karena keikhlasan, kesungguhan, dan keselarasan dengan syariat.

Bagaimana cara mengetahui doa saya sudah mustajab?

Anda dapat merasakan kelegaan batin, perubahan situasi yang sesuai dengan permohonan, atau tanda-tanda lain seperti mimpi yang menguatkan. Kunci utamanya adalah rasa syukur setelah doa terkabul.

Apakah ada waktu terbaik untuk berdoa agar mustajab?

Waktu-waktu mustajab meliputi saat sahur, setelah shalat fardhu, di sepertiga malam, dan setelah shalat Maghrib. Memanfaatkan waktu-waktu ini meningkatkan peluang doa didengar.

Apakah semua doa harus diucapkan dalam bahasa Arab?

Tidak. Allah memahami bahasa hati; yang penting adalah keikhlasan dan pemahaman makna. Namun, mengucapkan doa dalam bahasa Arab dapat menambah keutamaan bila memang Anda menguasainya.

Bagaimana menghindari kesalahan yang membatalkan keberkahan doa?

Hindari dosa besar, jangan berdoa sambil menutup mata hati, serta pastikan tindakan sehari‑hari tidak kontradiktif dengan permohonan. Keselarasan antara niat, perkataan, dan perbuatan sangat penting.

Apakah do’a mustajab berbeda dengan dzikir?

Do’a adalah permohonan khusus, sementara dzikir adalah mengingat Allah. Keduanya dapat saling melengkapi; dzikir memperkuat hati sebelum berdoa, menjadikannya lebih mustajab.

Apakah ada amalan lain yang dapat meningkatkan keberkahan doa?

Ya, puasa sunnah, sedekah, dan membaca Al‑Qur’an secara rutin membantu membuka pintu keberkahan. Amalan-amalan ini menambah pahala dan menajamkan niat doa.

Kesimpulan

Do’a mustajab dalam islam bukan sekadar kata‑kata yang diucapkan, melainkan cerminan dari hati yang bersih, tindakan yang selaras, dan kesabaran yang kuat. Dari uraian di atas, tiga pilar utama muncul: keikhlasan sebagai bahan bakar, konsistensi sebagai jembatan, serta keselarasan antara doa dan perbuatan sebagai landasan.

Langkah nyata yang dapat kamu ambil mulai hari ini adalah mempraktikkan enam poin praktis yang telah disebutkan, mencatat setiap doa dalam jurnal, dan terus berusaha menyeimbangkan hidup dengan nilai-nilai Islam. Ketika hati, lidah, dan perbuatan bergerak dalam satu irama, pintu keberkahan akan terbuka lebar, tidak hanya untukmu, tetapi juga bagi orang‑orang di sekelilingmu.

Jangan ragu untuk menjelajahi www.EmirzalAndis.com untuk panduan lebih mendalam, artikel inspiratif, dan layanan yang membantu memperkuat spiritualitas serta kualitas hidupmu. Do’a yang tulus, dipadu dengan usaha nyata, akan menjadi kunci mengubah setiap tantangan menjadi peluang keberkahan yang berkelanjutan.

Do’a mustajab dalam Islam bukan sekadar ritual, melainkan dialog hidup antara hamba dan Sang Pencipta. Ketika hati dipenuhi keikhlasan, setiap kata yang terucap menjadi magnet keberkahan. Namun, banyak orang terjebak pada pola pikir atau kebiasaan yang malah menghalangi kekuatan doa. Berikut ini kami rangkum kesalahan‑kesalahan umum serta cara memperbaikinya, disertai tips lanjutan dari para praktisi yang telah merasakan dampak positifnya.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Memahami apa yang dapat menurunkan efektivitas doa memudahkan kita menata niat dan tindakan. Berikut 4 kesalahan nyata beserta alternatif yang benar:

  • Berdoa sambil sibuk dengan urusan duniawi. Ketika pikiran masih terikat pada pekerjaan atau media sosial, konsentrasi doa terpecah. Alternatif: Tetapkan waktu khusus—misalnya setelah shalat fardhu atau sebelum sahur—di mana gangguan minimal dan lingkungan tenang.
  • Memaksa hasil tanpa bersabar. Do’a yang dipenuhi keinginan mendesak sering kali mengabaikan takdir Allah. Alternatif: Sertakan istiqamah dan tawakkul dalam doa, sambil terus berusaha dan menunggu tanda-tanda Ilahi.
  • Mengulang‑ulang doa secara mekanis tanpa perasaan. Pengulangan tanpa rasa dapat membuat doa terasa hampa. Alternatif: Renungkan arti setiap lafaz, rasakan kehadiran Allah, dan hubungkan dengan kebutuhan hati yang sebenarnya.
  • Berdoa sambil berbuat maksiat atau melanggar etika Islam. Perbuatan yang bertentangan dengan syariat menutup pintu rahmat. Alternatif: Pastikan amal perbuatan bersih, misalnya dengan melakukan wudu, menjaga adab, dan memohon ampun sebelum memulai doa.

Tips Lanjutan dari Praktisi

Para ulama dan praktisi spiritual mengajukan beberapa strategi yang dapat memperdalam pengalaman do’a mustajab dalam Islam. Tips berikut dapat langsung dipraktekkan mulai hari ini:

  • Gunakan jurnal doa. Tuliskan doa, tanggal, dan harapan Anda. Membaca kembali catatan tersebut membantu mengevaluasi perkembangan spiritual dan menumbuhkan rasa syukur ketika doa terkabul.
  • Manfaatkan ayat-ayat Qur’an sebagai rangkaian doa. Misalnya, bacalah Surat Al‑Ikhlas, Al‑Falaq, dan An‑Nas setelah setiap doa utama. Kombinasi ini menambah keutamaan dan menenangkan jiwa.
  • Berdoa dalam bahasa hati. Jika bahasa Arab terasa berat, gunakan bahasa Indonesia yang tulus. Allah mendengar setiap seruan, asalkan niatnya bersih dan penuh harap.
  • Gabungkan doa dengan amal jariyah. Sumbangkan sedekah, ajarkan ilmu, atau bantu sesama. Amal tersebut menjadi “penopang” yang memperkuat doa, menjadikannya lebih “mustajab”.
  • Latih napas sadar (breath awareness) sebelum berdoa. Tarik napas dalam-dalam tiga kali, hembuskan perlahan sambil mengucapkan “Bismillah”. Teknik ini menenangkan sistem saraf, membuat hati lebih fokus pada Allah.

Dengan menghindari kesalahan‑kesalahan di atas dan mengaplikasikan tips lanjutan, do’a Anda akan lebih terarah, kuat, dan tentunya lebih mudah diterima. Ingat, keberkahan tidak datang secara kebetulan; ia tumbuh bersama niat, usaha, dan keikhlasan.

Jika Anda ingin menggali lebih dalam lagi tentang praktik spiritual yang terintegrasi dengan kehidupan modern, kunjungi www.EmirzalAndis.com. Di sana, Anda akan menemukan panduan lengkap, artikel inspiratif, dan layanan yang membantu menyeimbangkan antara ibadah dan aktivitas sehari-hari. Seperti tagline kami, “MY LIFE IS FOR ALLAH SWT”, setiap langkah kecil yang Anda ambil dapat menjadi pintu gerbang menuju keberkahan yang berkelanjutan.


Tonton Video Terkait

📹 Lihat Video

Jangan Lewatkan! Tonton Video di atas dan Pelajari Lebih Lanjut.

Klik di Sini untuk Info Lebih Lanjut

Doa Mustajab Melunasi Utang, Baca Sebelum Tidur

Hits: 25

Doa Mustajab Melunasi Utang, Baca Sebelum Tidur

Setelah membaca doa melunasi utang, dianjurkan tidur dalam keadaan berbaring pada sisi kanan.

Utang piutang adalah perkara yang lazim kita temui di tengah masyarakat. Islam membolehkan hukum utang piutang karena termasuk akad ta’awun (tolong menolong).

Dari Ibnu ‘Umar, bersabda: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah)

Bagaimana cara agar bisa melunasi utang? Berikut doa yang diajarkan Rasulullah SAW. Doa ini dianjurkan dibaca sebelum tidur.

Telah diceritakan dari Zuhair bin Harb, telah diceritakan dari Jarir, dari Suhail, ia berkata, “Abu Shalih telah memerintahkan kepada kami apabila salah seorang di antara kami hendak tidur, hendaklah berbaring di sisi kanan kemudian mengucapkan:

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Allahumma robbas-samaawaatis sab’i wa robbal ‘arsyil ‘azhiim, robbanaa wa robba kulli syai-in, faaliqol habbi wan-nawaa wa munzilat-tawrooti wal injiil wal furqoon. A’udzu bika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaa-shiyatih. Allahumma antal awwalu falaysa qoblaka syai-un wa antal aakhiru falaysa ba’daka syai-un, wa antazh zhoohiru fa laysa fawqoka syai-un, wa antal baathinu falaysa duunaka syai-un, iqdhi ‘annad-dainaa wa aghninaa minal faqri.

Artinya:

“Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit yang tujuh, Tuhan yang menguasai ‘Arsy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Tuhan yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Tuhan yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Alqur’n). Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkaulah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelahMu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang lahir, tidak ada sesuatu di atas-Mu. Engkaulah yang batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu. Lunasilah utang kami dan berilah kami kekayaan (kecukupan) hingga terlepas dari kefakiran.” (HR Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan maksud utang dalam hadits ini adalah kewajiban kepada Allah Ta’ala dan kewajiban terhadap hamba seluruhnya. Intinya mencakup segala macam kewajiban. (Syarh Shahih Muslim, 17: 33).

Dalam hadits tersebut juga diajarkan adab sebelum tidur yaitu berbaring pada sisi kanan. Disunnahkan untuk berwudhu terlebih dahulu. Selamat mengamalkan!

وَاِذَا تُتۡلٰى عَلَيۡهِ اٰيٰتُنَا وَلّٰى مُسۡتَكۡبِرًا كَاَنۡ لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا كَاَنَّ فِىۡۤ اُذُنَيۡهِ وَقۡرًا‌ۚ فَبَشِّرۡهُ بِعَذَابٍ اَلِيۡمٍ

Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya, maka gembirakanlah dia dengan azab yang pedih.

(QS. Luqman:7)

Lelaki yang doanya selalu dikabulkan Allah

Hits: 69

Lelaki Yang Doanya Selalu Dikabulkan Allah

DI dalam Shahih Muslim, Usair bin Jabir meriwayatkan bahwa setiap datang masyarakat rombongan Yaman, Khalifah Umar bin Khathab radiallahu anhu selalu bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir?” Ada apa sebenarnya dengan Uwais? Mengapa orang sehebat Umar bin Khathab bertanya tentang Uwais? Kita lihat bagaimana selanjutnya kisah ini.

Begitu Uwais datang, Umar berkata, “Apakah kamu Uwais bin Amir?” Uwais menjawab, “Iya benar.” Umar bertanya lagi untuk meyakinkan, “Apakah kamu berasal dari masyarakat Murat kemudian masyarakat Qaran?” Uwais menjawab, “Iya.” Kemudian Umar bertanya lagi, “Dulu kamu pernah punya sejarah sakit, berubah warna kulitnya kemudian sembuh tapi tersisa hanya sebesar uang dirham dan masih ada bekasnya?” Uwais menjawab, “Ya.”

Kemudian Umar masih bertanya lagi untuk meyakinkan, “Kau punya seorang ibu?” Kemudian Uwais menjawab, “Ya.” Barulah Umar yakin dengan semua data yang ditanyakan. Ternyata, Uwais al-Qarni ini telah disebut-sebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau masih hidup.

Padahal Uwais tidak pernah bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentang barokahnya Uwais ini, Rasulullah sampai berkata, “Akan datang kepada kalian, seseorang bernama Uwais ibn Amir bersama rombongan masyarakat Yaman. Dia berasal dari Murat kemudian dari Qaran. Dia pernah sakit kemudian berubah warna kulitnya, dan ketika sembuh yang tersisa hanya sebesar dirham. Dia punya seorang ibu, betapa baktinya Ia kepada ibunya.”

Ternyata semua yang ditanyakan Umar, itulah kalimat Nabi. Umar ingin memperjelas data ini, benarkah data ini? Kalau memang benar, maka benarlah ia Uwais ibn Amir. Apa istimewanya Uwais? Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan, “Kalau ia bersumpah Demi Allah, Allah akan penuhi permintaannya.” Subhanallah. Ada orang yang kalau dia berdoa dan bermunajat, pasti Allah kabulkan. Selanjutnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Kalau ada di antara kalian yang bisa mendapatkan doa ampunan dari Uwais, maka mintalah.”

Maka Umar bin Khattab bertanya tentang Uwais itu untuk meminta doa ampunan ini, karena pasti dikabulkan. Semua permintaan Uwais pasti dikabulkan oleh Allah subhana wa taala. Maka Umar berkata, “Mohonkan ampun untuk saya.” Maka Uwais pun memohonkan ampun. Dan begitulah Uwais al-Qorni. Kemudian, bahkan di tahun berikutnya ketika ada rombongan Yaman lagi, Umar masih bertanya, “Uwais ada tidak bersama kalian?”

Ternyata dijawab, “Uwais tidak punya bekal sehingga dia tidak ikut bersama kami.” Dan kemudian orang itu bertanya, “Mengapa kamu bertanya tentang Uwais?” Kemudian Umar menyampaikan hadis Nabi tentang Uwais tadi. Begitu orang itu pulang, orang itu meminta agar didoakan, dimohonkan ampun oleh Uwais. Uwais berkata, “Kamu yang baru pulang dari perjalanan mulia yaitu perjalanan haji, maka kamu yang mendoakan saya.”

Orang yang baru pulang haji berkata, “Tidak, kaulah yang mendoakan aku. Doakan aku.” Kemudian akhirnya Uwais bertanya, “Pasti kamu bertemu Umar?” Dia berkata, “Iya.”

Maka kemudian Uwais mendoakannya. Subhanallah, ini orang yang mahal. Perlu kita catat dan digaris tebal ini bahwa ini orang yang mahal untuk zaman seperti ini. Ketika nyaris rasanya sulit mencari orang yang doanya langsung didengar Allah subhana wa taala karena terlalu banyak memasukkan barang yang haram. Maka kalau hari ini ada yang doanya langsung didengar oleh Allah subhana wa taala, betapa mahalnya orang itu. Dan ternyata salah satu cara untuk menjadi orang barokah seperti Uwais, sehingga doanya selalu didengar oleh Allah subhana wa taala adalah kalimat Rasul: Bahwa Uwais mempunyai ibu dan betapa baktinya ia kepada ibunya. Berbaktilah kepada kedua orangtua agar hidup kita diberkahi oleh Allah subhana wa taala, sehingga setiap kita meminta, Allah pasti akan mengabulkannya.

Semoga Allah subhana wa taala memberkahi kita semua. Wallahu taala alam bishowab.

Pelihara Lidah dari 8 Perkara Ini

Hits: 16

Imam Al-Ghazali: Pelihara Lidah dari 8 Perkara Ini

Agama Islam terdiri dari dua bagian yaitu meninggalkan apa yang dilarang dan melakukan amal ketaatan. Meninggalkan apa yang dilarang jauh lebih sulit karena melakukan amal ketaatan dapat dilakukan semua orang.

Sedangkan meninggalkan syahwat hanya bisa diwujudkan oleh mereka yang tergolong shiddiqun. Karena itu, Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang berhijrah adalah yang meninggalkan keburukan, sedangkan orang yang berjihad adalah yang berjuang melawan hawa nafsunya.”

Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali (1058-1111) dalam Kitab ‘Bidayatul Hidayah’ memberikan nasihat agar manusia memelihara lidahnya dalam 8 perkara. Menurut Imam Al Ghazali, ketika seseorang bermaksiat sesungguhnya ia telah melakukan maksiat dengan anggota badannya, padahal anggota badan merupakan nikmat dan karunia besar Allah.

Terkait lidah, ia diciptakan agar dengannya kita bisa banyak berzikir kepada Allah Swt, membaca kitab suci-Nya, memberi petunjuk kepada manusia. Lidah merupakan anggota badan yang paling dominan.

Imam Al-Ghazali rahimahullah berpesan untuk memelihara lidah agar kita tidak terjerumus ke dalam neraka. Maka, peliharalah lidahmu dari 8 perkara ini:

1. Berdusta.

Jagalah lidahmu agar jangan sampai berdusta baik dalam keadaan serius maupun bercanda. Jangan biasakan dirimu berdusta dalam canda karena hal itu akan mendorongmu untuk berdusta dalam hal yang bersifat serius. Berdusta termasuk induk dosa-dosa besar.

2. Mengingkari Janji.

Jangan menjanjikan sesuatu tapi kemudian tidak menepatinya. Hendaknya engkau berbuat baik kepada manusia dalam bentuk tingkah laku, bukan dalam bentuk perkataan. Jika engkau terpaksa berjanji, jangan sampai mengingkari janji itu kecuali jika engkau betul-betul tak berdaya atau ada halangan darurat. Nabi SAW bersabda, “Ada tiga hal, yang jika ada di antara kalian yang jatuh ke dalamnya maka ia termasuk munafik, walaupun ia puasa dan salat. Yaitu, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanat ia berkhianat.”

3. Ghibah (Menggunjing).

Peliharalah lidahmu dari menggunjing orang. Dalam Islam, orang yang melakukan perbuatan itu lebih hina daripada tiga puluh orang pezina. Makna ghibah adalah membicarakan seseorang dengan sesuatu yang ia benci jika ia mendengarnya. Walaupun engkau berkata benar, hindarilah untuk menggunjing secara halus. Misalnya menyatakan maksudmu secara tidak Iangsung dengan berkata, “Semoga Allah memperbaiki orang itu. Sungguh tindakannya sangat buruk padaku. Kita meminta kepada Allah agar Dia memperbaiki kita dan dia.” Di sini terkumpul dua hal yang buruk, yaitu ghibah dan merasa bahwa diri sendiri bersih tidak bersalah. Jika engkau benar-benar bermaksud mendoakannya, berdoalah secara rahasia. Cukuplah firman Allah ini menghalangimu dari gibah, “Jangan sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kalian senang memakan daging saudaranya yang sudah mati. Pasti kalian tidak menyukainya,” (QS Al-Hujurat: 12).

4. Berdebat

Dengan berdebat, kita telah menyakiti, menganggap bodoh, dan mencela orang yang kita debat. Selain itu, kita menjadi berbangga diri serta merasa lebih pandai dan berilmu. Manakala engkau mendebat orang bodoh, ia akan menyakitimu. Sedangmendebat orang pandai, ia akan membenci dan dengki padamu. Nabi SAW bersabda, “Siapa yang meninggalkan perdebatan sedang ia dalam keadaan salah, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di tepi surga. Dan siapa yang meninggalkan perdebatan padahal dia dalam posisi yang benar, Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga yang paling tinggi”. Jangan sampai kita tertipu oleh setan yang berkata padamu, ‘Tampakkan yang benar, jangan bersikap lemah,’ Sebab, setan selalu akan menjerumuskan orang dungu kepada keburukan dalam bentuk kebaikan.

5. Mengklaim Diri Bersih dari Dosa.

Allah Ta’ala berfirman, “Jangan kalian merasa suci. Dia yang lebih mengetahui siapa yang bertakwa” (QS An-Najm: 32). Sebagian ahli hikmat ditanya, “Apa itu jujur yang buruk?” Mereka menjawab, “Seseorang yang memuji dirinya sendiri.” Janganlah engkau terbiasa demikian. Ketahuilah bahwa hal itu akan mengurangi kehormatanmu di mata manusia dan menyebabkan datangnya murka Allah.

6. Mencela.

Jangan sampai mencela ciptaan Allah baik itu hewan, makanan, ataupun manusia. Janganlah engkau dengan mudah memastikan seseorang yang menghadap kiblat sebagai kafir, atau munafik. Karena, yang mengetahui semua rahasia hanyalah Allah. Karena itu, jangan mencampuri urusan antara hamba dan Allah. Ketahuilah bahwa pada hari kiamat engkau tak akan ditanya, “Mengapa engkau tidak mencela si fulan? Mengapa engkau mendiamkannya?” Nabi SAW sendiri tidak pernah mencela makanan yang tidak enak. Jika beliau berselera dengan sesuatu, beliau memakannya. Jika tidak, beliau tinggalkan.

7. Mendoakan Keburukan Bagi Orang Lain.

Peliharalah lidahmu untuk tidak mendoakan keburukan bagi makhluk Allah. Jika ia telah berbuat aniaya padamu, maka serahkan urusannya pada Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Seorang yang dianiaya mendoakan keburukan bagi yang menganiaya dirinya sehingga menjadi imbang. Kemudian yang menganiaya masih memiliki satu kelebihan yang bisa ia tuntut kepadanya pada hari kiamat”. Bersabarlah dan doakanlah kebaikan untuk orang lain.

8. Bercanda, Mengejek dan Menghina Orang.

Peliharalah lidah dalam kondisi serius maupun canda karena ia bisa menjatuhkan kehormatan, menurunkan wibawa, membuat risau, dan menyakiti hati. Ia juga merupakan pangkal timbulnya murka dan marah serta dapat menanamkan benih-benih kedengkian di dalam hati. Karena itu, jangan bercanda dengan seseorang dan jika ada yang bercanda denganmu, jangan kau balas. Berpalinglah sampai mereka membicarakan hal lain.

Demikian nasihat indah Imam Al-Ghazali tentang bahayanya lidah. Diceritakan bahwa Abu Bakar Shiddiq RA meletakkan sebuah batu di mulutnya agar tidak berbicara kecuali saat perlu saja. Beliau menunjuk lidahnya lalu berkata, “Inilah yang menjadi segala sumber bagiku. Kekanglah ia sekuat tenagamu, karena ia merupakan faktor utama yang membuatmu celaka di dunia dan akhirat.” Allahu A’lam.