Hidayah datang pada kondisi puncak

Hits: 20

George bin Todzira, Hidayah Datang Saat di Medan Perang

Riau aktual

2019/01/05 17:54

Ikuti

Memang hidayah itu istimewa. Ia mahal dan berharga. Kedudukan dan status sosial bukanlah ukuran mendapatkannya. Gelimang harta bukanlah sarana bisa mendapatkannya. Terkadang, ia pun datang di saat yang tak disangka. Ia datang di saat yang menyerunya mungkin sudah putus asa. Ia datang, kadang di saat musibah. Dan ia datang ketika permusuhan sudah mencapai puncaknya.

Seperti kisah George Todzira. Hidayah datang padanya justru saat ia tengah siap berperang.

George bin Todzira adalah panglima pasukan Bizantium. Di Perang Yarmuk, ia memimpin pasukan Roma, berperang menghadapi umat Islam yang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu. Sebelum pecah pertempuran, terjadi kejadian yang menarik. George berdialog dengan Khalid hingga ia memeluk Islam dan berpindah posisi menjadi pasukan kaum muslimin.

Dalam kondisi demikian, bayangkan apa yang dirasakan pasukan Romawi Bizantium saat itu? Tentu moral pertempuran mereka kaget dan mengendur. Dan pastinya, George adalah orang pertama yang hendak mereka bunuh.

Ketika pasukan tengah bertemu, George memanggil Pedang Allah, Khalid bin al-Walid. Khalid pun keluar dari pasukan, dan Abu Ubaidah menggantikan posisinya. Di tengah ribuan pasukan, kedua panglima perang itu berdiri berhadap-hadapan. Hingga leher tunggangan mereka bertautan.

George berkata, “Wahai Khalid, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Jangan berbohong, karena orang yang merdeka tidak pantas berbohong. Jangan pula kau tipu aku, karena orang yang mulia tidak akan menipu”. George melanjutkan, “Apakah Allah menurunkan pedang dari langit kepada Nabi kalian, lalu ia memberikannya kepadamu? Kemudian tidaklah pedang itu berjumpa dengan suatu kaum, kecuali ia berhasil mengalahkannya?

“Tidak”, jawab Khalid singkat.

“Lalu mengapa engkau disebut dengan saifullah (Pedang Allah)?” Tanya George yang benar-benar menginginkan jawaban.

Khalid menjawab, “Sesungguhnya Allah mengutus Nabi-Nya ke tengah-tengah kami. Ia mendakwahi kami, namun kami semua lari tak mengacuhkannya. Lalu sebagian kami ada yang membenarkan dakwahnya dan mengikutinya. Sementara yang lain menjauhi dan mendustakannya. Aku termasuk orang yang menjauhi, mendustakan, dan memeranginya. Setelah itu, Allah memberi hidayah kepada kami. Kami pun mengikuti ajarannya. Ia berkata kepadaku, ‘Engkau adalah pedang di antara pedang-pedang Allah yang ia hunuskan kepada orang-orang musyrik. Ia mendoakanku dengan kemenangan. Lalu melaqobiku dengan saifullah. Dari situlah, aku menjadi orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang musyrik”.

“Engkau telah jujur kepadaku”, sambut George menanggapi penjelasan Khalid.

Lalu ia kembali bertanya kepada Khalid, “Wahai Khalid, beri tahu aku, apa engkau serukan padaku?”

“Kepada persaksian bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Dan meyakini bahwa apa yang ada padanya (wahyu) adalah dari sisi Allah” Khalid menerangkan risalah Islam kepada George.

“Kalau orang tidak menerima seruan kalian itu?” tanya George.

“Jizyah menjamin mereka”, jawab Khliad.

“Bagaimana kalau mereka tidak mau menyerahkannya (jizyah)? tanya George.

“Kami perangi mereka”, jawab Khalid

“Bagaimana kedudukan orang-orang yang menerima seruan kalian?” tanya George.

“Kedudukan kami sama (setara) dalam kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan kepada kami. Baik orang yang mulia atau orang biasa. Baik yang awal (memeluk Islam) dan yang terakhir”, jawab Khalid.

George kembali mengajukan pertanyaan, “Apakah orang yang hari ini memeluk Islam –wahai Khalid- sama pahala dan ganjarannya?”

“Iya, bahkan bisa jadi lebih utama”, jawab Khalid.

Dengan nada heran, George kembali bertanya, “Bagaimana bisa ia sama dengan kalian, padahal kalian lebih dulu memeluk Islam?”

“Kami memeluk Islam dan berbaiat kepada nabi kami, di saat kami menjumpainya. Datang padanya kabar-kabar tentang kitab-kitab, lalu ia memperlihatkan tanda-tanda (kebesaran Allah) pada kami. Orang yang melihat apa yang kami lihat dan mendengar apa yang kami dengar membenarkannya, berislam, dan membaiatnya. Adapun kalian, kalian belum pernah menjumpai apa yang kami jumpai. Belum pernah mendengar apa telah kami dengar berupa mukjizat dan hujjah. Kalau kalian memeluk Islam dengan tulus dan sebenar-benarnya. Tentu lebih baik dari kami.” Jawab Khalid berusaha mengurai kebingungan George.

“Demi Allah, engkau berkata jujur, tidak menipuku, dan tidak berpura-pura padaku kan?” tanya George berusaha mendapatkan jawaban yang pasti.

Khalid menjwab, “Demi Allah, aku telah berucap jujur padamu. Aku tidak berkepentingan apapun padamu atau salah seorang dari kalian. Sesungguhnya Allah menjadi saksi atas apa yang engkau tanyakan padaku.”

George berkata, “Engkau telah jujur padaku.” Saat itu, George yang masih dalam persiapan berperang mulai luluh hatinya tatkala mendengar penjelasan dan seruan Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu. Hatinya bergetar dan cenderung kepada Khalid. Kemudian, di tengah medan perang dan posisi siap berperang, George mengucapkan perkataan yang mengejutkan, “Ajarkanlah aku tentang Islam”, pintanya.

Lalu Khalid mengajaknya ke tendanya. Menyediakan air untuknya bersuci. Kemudian George menunaikan shalat dua rakaat. George telah memeluk Islam. Khalid bin al-Walid dan para sahabat Nabi memberikan teladan bahwa berangkat ke medan perang bukanlah semata-mata untuk membunuh orang. Tapi tujuan utamanya adalah memberikan hidayah. Inilah bedanya jalan para sahabat dengan orang-orang yang terlibat aksi terorisme. Tujuan mereka membunuh, bukan memberi hidayah.

Keluar dari Bizantium dengan permusuhan yang memuncak dan memimpin pasukan untuk memerangi Islam dan kaum muslimin, ternyata saat itulah hidayah datang kepadanya. Oleh karena itu, janganlah kita berputus asa. Sebagaimana Khalid masih mengharapkan hidayah kepala pasukan yang hendak membunuh dan memeranginya.

George berbalik posisi. Ia berdiri di sebelah Khalid untuk memerangi pasukan Bizantium. Dalam perang itu ia menderita luka parah dan menemui syahidnya di medan Yarmuk. Setelah berislam, ia hanya satu kali melakukan shalat, dan sujud dalam dua rakaat. Kemudian ia gugur di medan jihad.

Benarlah apa yang Khalid ucapkan, bisa jadi orang yang baru memeluk Islam dan sedikit amalnya lebih unggul dibanding orang yang terlahir sebagai seorang muslim. George hanya menunaikan satu kali shalat dalam hidupnya, namun ia mendapatkan kemuliaan jihad di jalan Allah. Menjemput kematian sebagai seorang syuhada, insya Allah.

Sumber: – Tarikh al-Umam wa –ar-Rusul wa al-Muluk oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, jilid 3, halaman 398-400.

Penjelasan ttg Jin Qorin Dan Jin Biasa

Hits: 20

Dari Ibnu Mas’ud
-radhiallahu’anhu-, Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda: “Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang qorin (pendamping) dari golongan jin.” Para shahabat bertanya: “Termasuk Anda, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: وَإِيَّايَ إِلاَّ أَنَّ اللَّه أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلا يَأْمُرنِي إِلاَّ بِخَيْرٍ
“Termasuk saya, hanya saja Allah membantuku untuk menundukkannya, sehingga dia masuk Islam. Karena itu, dia tidak memerintahkan kepadaku kecuali yang baik.” (Hadits Riwayat Muslim)

Imam An-Nawawi mengatakan: “Dalam hadis ini terdapat peringatan keras terhadap godaan jin qorin dan bisikannya. Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberi tahu bahwa dia bersama kita, agar kita selalu waspada sebisa mungkin”. (Syarh Shahih Muslim, 17:158)
“Berdasarkan perenungan terhadap berbagai dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dapat disimpulkan bahwa tidak ada tugas bagi jin qorin selain menyesatkan, mengganggu, dan membisikkan was-was (bisikan syaitan). Godaan jin qorin ini akan semakin melemah, sebanding dengan kekuatan iman pada disi seseorang.” (Fatawa Islam, tanya jawab, no. 149459)
———————————————————————————————-

Kareteristik jin Qarin:

– Tidak diberi kemampuan dari Allah Ta’ala untuk menyakiti tubuh manusia.
– Tidak diberi kemampuan dari Allah Ta’ala untuk membuat manusia kesurupan.
– Jin Qorin tidak dapat dimusnahkan/dibunuh dengan bacaan Ruqyah sebab sudah menjadi ketentuan Allah akan mendampingi tiap manusia sampai dia meninggal dunia.
– Bisikannya dapat dinetralisir dengan dzikir dan doa (jika Qarinnya kafir) namun tidak dapat dihilangkan 100%.
– Seluruh Qorin membisikkan kejahatan kecuali Qorin pada para nabi termasuk Qorin Rasulullah hanya bisa membisikkan kebaikan.
– Bisikan Qorin berupa dorongan/gerak hati untuk melakukan suatu dosa. Contohnya ada niat dalam hati untuk berzinah dengan pacar, waspadai ini bisikan qorin.
– Bisikan Qorin juga bisa menyamar menjadi bisikan hati. Contoh: seorang berbicara dalam hatinya: “udah haus nih kayaknya batalin aja puasa hari ini udah ga tahan lagi” padahal dia sedang berpuasa, waspadai ini bisikan qarin.
– Bahkan setiap Ulama’, ustadz, para peruqyah atau masyarakat awam tetap memiliki qarin yang membisikkan kejahatan. Yang jika Ulama’, ustadz, peruqyah atau masyarakat awam banyak berdzikir maka semua bisikan/gerak hati dari perbuatan qorin dapat dinetralisir (tidak tergoda).
– Bisikan Qorin sangat samar dan tidak dapat diajak dialog.
– Bisikan Qorin membuat was-was (godaan bisikan syaitan) bagi manusia.
– Bisikan Qorin tidak memiliki kemampuan untuk menghina Allah dan Rasul-Nya.
– Qorin memiliki kemampuan untuk membuat angan-angan kosong pada manusia.

Karateristik Jin bukan Qorin (jin biasa):

– Memiliki kemampuan untuk menyakiti tubuh manusia.
– Memiliki kemampuan untuk membuat manusia kesurupan.
– Dapat diusir, dimusnahkan atau dibunuh dengan bacaan Ruqyah.
– Bisikan Jin bukan Qorin (jin biasa) sangat jelas di telinga dan bisa diajak dialog.
– Bisikan Jin bukan Qorin bisa dihilangkan 100% dengan dzikir dan doa.
– Bisikan Jin bukan Qorin membisikkan kejahatan pada seluruh manusia namun tidak diberi Kemampuan oleh Allah untuk membisikkan kejahatan pada para Nabi. (Jika ada jin bukan qorin mendekati sang nabi, niscaya dia bisa ditangkap oleh para nabi bahkan dicekik sebagaimana jin (jin biasa / jin yang bukan qorin) yang mendekati Rasulullah SAW ketika sholat ditangkap dan dicekik oleh Rasulullah SAW).
– Bisikan Jin biasa berupa dorongan/gerak hati untuk melakukan suatu dosa. Contohnya ada niat dalam hati untuk berzinah dengan pacar, waspadai ini bisikan qarin.
– Bisikan jin biasa juga bisa menyamar menjadi bisikan hati. Contoh: Seorang berbicara dalam hatinya: “udah haus nih kayaknya batalin aja puasa hari ini udah ga tahan lagi” padahal dia sedang berpuasa, waspadai ini bisikan qarin.
– Tidak setiap orang dapat diperdaya jin biasa, jika ada seseorang membaca do’a perlindungan maka jin biasa (bukan qorin) benar-benar tidak dapat mendekati dan mempengaruhi manusia.
– Bisikan jin biasa memiliki kemampuan untuk menghina Allah dan Rasul-Nya.
– Jin biasa juga memiliki kemampuan untuk membuat angan-angan kosong dan was-was pada manusia.

Wallahua’lam bishowwab………………

———————————————————————

Dan akan ana tambahkan satu lagi mengenai perbedaan yang paling utama antara jin Biasa dengan jin Qorin.

Yaitu bahwa jin Biasa hidupnya di ‘alam jin, ‘alam ghaib, adalah suatu ‘alam yang terpisah dengan ‘alam manusia, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّهُۥ يَرَٮٰكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ
“Sesungguhnya ia (Iblis) dan pengikut-pengikutnya (para jin) melihat kamu (manusia) dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka”. (QS Al-‘Araf: 27).

Sedangkan jin Qorin hidupnya di ‘alam manusia, ‘alam manusia adalah ‘alam tempat hidupnya jin Qorin, sebab jin Qorin menyatu dengan gerak langkah manusia. Jin Qorin adalah jin yang tugasnya mendampingi manusia dari pada saat manusia lahir sampai manusia meninggal. Wujud Jin Qorin amat sama dengan wujud manusia yang menjadi tuannya.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

ما منكم من أحد إلاوقد وكل به قرينه من الجن
“Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang qorin (pendamping) dari golongan jin”. (Hadits Riwayat Muslim).

Nah karena jin Qorin secara nonstop mendampingi manusia yang jadi tuannya secara terus-menerus, maka berarti Jin Qorin hidupnya tidak di ‘alam ghoib (‘alam jin), tetapi hidup di ‘alam manusia untuk mendampingi kita.

Akhirul kalam ana menyampaikan bahwa, ada dua jenis jin, Jin Biasa dengan Jin Qorin. Cuman bedanya kalo Jin Biasa hidupnya di ‘alam jin (‘alam ghaib) sedangkan Jin Qorin hidupnya di ‘alam manusia yang memang dia adalah pendamping setia manusia selama hidup di dunya.

Wallahu a’lam bi showwab…………………

Khalid Bin Walid dipecat

Hits: 21

KHOLID BIN WALID DIPECAT KARENA TDK PERNAH BERBUAT KESALAHAN.

Pada zaman pemerintahan Khalifah Sayidina Umar Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan.
Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim.
Beliau adalah Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, “Hidup Khalid, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus.”
Ya! .. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus.

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejelian taktiknya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.

Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, taktik & strategi, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Sayidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat,
“Dengan ini saya nyatakan Panglima Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!”

Menerima khabar tersebut tentu saja sang Panglima sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, “Assalamualaikum ya Amirul mukminin ! Langsung saja !
Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat ?”

“Walaikumsalam warahmatullah !
Betul Khalid!” Jawab Khalifah.

“Kalau masalah dipecat itu hak anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?”

“Kamu tidak punya kesalahan.”

“Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat?
Apa saya tak mampu menjadi panglima?”

“Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik.”

“Lalu kenapa saya dipecat?” tanya Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, “Khalid, engkau panglima terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong”

”Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!”

Mendengar jawaban itu, Khalid bin Walid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, “Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!”

Bayangkan …. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun.
Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu?
Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, ‘kegagalan’ atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada.
Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat….. bahkan hingga yang paling ekstrim…. Tuhan pun digugat.

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tidak lagi sebagai panglima perang.
Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, “Panglima, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat.”

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, “Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.”

=========🌹🌹🌹=========

*Patut direnungkan dan di hayati. Semoga bermafaat*
.