Hits: 8

Ini Bukti Kelahiran Nabi Muhammad SAW Disertai Cahaya
Kebenaran cahaya yang memancar saat bayi Muhammad SAW dilahirkan di Makkah.
Di antara penceramah terbaru ada yang mengatakan bahwa Nur Nabi Muhammad (SAW) tidak ada yang memancar bersinar pada malam kelahirannya, hanya dikhawatirkan diketahui oleh orang-orang Yahudi dan akan dibunuh. Ini adalah kebohongan sejarah serta pengingkaran terhadap kebenaran irhashat (peristiwa luar biasa sebelum diangkat menjadi seorang Nabi) Rasulullah!
Silakan merujuk ke Kitab “نور الأبصار في مناقب النبي المختار” Nurul Abshar fi Manaqib An-Nabiyyil Mukhtar karya Syeikh Mu’min as-Syablanji Ulama Sunni Abad ke-13 H pada Halaman 27:
Di sana diriwayatkan ada seorang Yahudi di kota Makkah yang menanyakan tentang peristiwa kelahiran Nabi Muhammad dari indikasi cahaya terang benderang yang ia lihat di malam itu.
Pada pagi harinya, dia menanyakan pada penduduk Makkah dengan mengajukan pertanyaan:
هل ولد فيكم الليلة مولود
“Apakah tadi malam ada di antara keluarga kalian yang melahirkan?”
Beruntung, orang-orang yang dia temui belum mendengar berita kelahiran Nabi Muhammad di malam kemarin. Mereka menjawab, “Belum atau tidak mengetahuinya!”
Di sanalah Allah menjaga kekasih-Nya Muhammad dari niat jahat orang-orang Yahudi yang ingin membunuh bayi yang diharapkan akan menjadi Nabi akhir zaman yang bukan dari kalangan Bani Israil.
Ada banyak referensi lainnya yang menguatkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad jelas terang benderang disinari oleh cahaya Nur yang tak bisa dinafikan, hingga ada dilihat oleh seorang Yahudi di kota Makkah.
Darimana si Yahudi mengetahui pertanda kelahiran seseorang yang dinantikan dan ditunggu-tunggu dalam kitab Taurat mereka, selain pertanda kelahiran itu, seperti pancaran cahaya yang pertanda itu dikenal baik oleh kalangan pemuka agama Yahudi?
Dalil lain yang menguatkan bisa dibaca pada kitab “عيون الأثر” ‘Uyunul Atsar karya Al-Hafidz Muhammad al-Ya’mari halaman 81 dari pengakuan Fathimah binti Abdillah yang menyaksikan cahaya terang benderang itu pada malam itu dengan ucapannya:
فما شيئ أنظر إليه من البيت إلا نور
“Aku tidak melihat dari rumahku, melainkan cahaya yang terang benderang.”
Belum lagi, jika mau dikaitkan pada pernyataan Ibunda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibn Sa’id yang melihat langsung cahaya itu memancar saat bayi Muhammad keluar dari rahim-nya.
لما ولدته خرج من فرجي نور أضاءت له قصور الشام
“Manakala aku melahirkannya (Muhammad) aku lihat Nur memancar dari tempat bersalin-ku yang semuanya tampak terang benderang, hingga tampak terlihat istana-istana Romawi.”
Baca juga kitab “الخصائص الكبرى” Al-Khasaish al-Kubro karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi halaman 83 pun meriwayatkan hal yang sama dari ucapan Sayyidah Aminah, ibunda Nabi Muhammad yang menyatakan kebenaran adanya cahaya terang benderang itu dengan ungkapan:
ورأيت نوا ساطعا من رأسه حتى بلغ السماء
“Aku menyaksikan cahaya memancar dari kepala bayiku Muhammad hingga menembus langit.”
Sama halnya riwayat Umm Shafa, ibunda dari Abdurrahman bin Auf, wanita yang ikut membidani kelahiran Nabi Muhammad menyatakan hal yang sama. Riwayatnya dikutip dan dibenarkan oleh Imam Athabari.
Jadi dalil mana lagi yang ingin mereka dustakan untuk menutupi kebenaran Irhashat, tanda-tanda kenabian Nabi Agung Muhammad SAW. Apakah ucapan orang-orang seperti ini tidak menyakiti Rasulullah?
Lantas, siapa kelak yang akan memberikan syafaat jika Rasulullah saja dinafikan kebenarannya, didustakan riwayat kemuliannya? Wallahu A’lam.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ تَـنۡصُرُوا اللّٰهَ يَنۡصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ اَقۡدَامَكُمۡ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong agama Allah, pasti Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
(QS. Muhammad:7)
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra, berkata,” Aku tengah Bersama Rasulullah Saw sementara itu Jibril juga tengan Bersama beliau, Nabi Muhammad SAW membaca al-Qur’an, tiba-tiba jin ifrit datang dari tempat keluarnya Jin. Di tangannya ada obor api dan ia mendekati Nabi SAW.Jibril lantas berkata, “Wahai Muhammad, maukah kau kuajari kalimat yang jika kau ucapkan, Ifrit akan berpaling dan obornya akan padam? Ucapkanlah kalimat berikutأَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِ اللهِ الكَرِيمِ وَكَلِمَاتِهِ التَّامَاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بِرٌّ وَلَا فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي الأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنْ السَمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيِلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ طَوَارِيقِ النَّهَارِ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَارَحْمَنA’uzhu bi nuuri wajhillahil kariimi waklimaatihit taammah allati laa yujaawizhu hunna birrun walaa faajiur min syarri maa dzara-a fii al-ardhi wamaa yakhruju minhaa wamaa yanzilu minas samaai wamaa ya’ruju fiihaa wamin syarri fitanil laili wan nahaari wamin syarri thawaariqin nahaari illa thaariqan yathruqu bikhairin yaa rahmaanArtinya:Aku berlindung dengan wajah Allah yang Mulia dan Kalimat-Nya yang sempurna yang tidak dapat diraih oleh pelaku kebaikan atau pemaksiat sekalipun, dari keburukan apa yang masuk dan keluar dari bumi, apa yang turun dari dan naik ke langit, dari keburukan fitnah malam dan siang hari, dari keburukan para pengetuk pintu di tengah malam dan siang hari, kecuali pengetuk pintu yang datang membawa kebaikan, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih. (HR. Ahmad)Kemudian Nabi mengucapkan doa tersebut, akhirnya Ifrit pun memalingkan wajah dan obornya padam.

Tahukah Ahli Kubur Ketika Ia Didoakan dan Diziarahi?Saat kita ziarah kubur, apakah ahli kubur mengetahui?Kematian adalah hal pasti yang akan dialami oleh manusia manapun yang ada di bumi. Kematian juga menjadi hal yang paling menyedihkan ketika dikaitkan dengan sebuah perpisahan, baik perpisahan antara suami dan istri, anak dan orang tua, bahkan peliharaan dan majikan.Ketika perpisahan telah terjadi, maka satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah mengikhlaskan. Masalah yang terjadi selanjutnya adalah jika keluarga yang masih hidup merindukan ahli kubur. Apakah mereka yang telah berada di sana dapat mengetahui sanak keluarga yang mendoakannya dan menziarahinya?Jawabannya adalah ketika rindu melanda, temuilah; sebab mereka yang telah tiada tiada kehilangan pendengaran untuk mendengar dan mengetahui orang-orang yang merindukan mereka, menziarahi mereka, dan mendoakan mereka.Jawaban didukung oleh hadis riwayat Imam al-Bukhari dalam bab jenazah yang berbunyi, “Ketika seorang hamba telah diletakkan di dalam kuburnya lalu teman-temannya pergi dan meninggalkannya, sesungguhnya Ia mendengar gerak langkah sandal-sandal mereka”. Selain itu, Nabi Muhammad juga mengajarkan umatnya untuk mengucapkan salam kepada ahli kubur ketika melewati kuburan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang telah meninggal tetap mendengar dan mengetahui salam dan doa dari orang-orang yang masih dianugerahi rasa betah hidup di dunia.Selain hadis Nabi Muhammad, dukungan atas jawaban di atas juga bersumber dari kisah yang ditulis oleh Imam Syamsuddin Abi Abdillah Ibnil Qayyim Al Jauziyah (masyhur dengan sebutan Ibnul Qoyyim Al Jauzi) di dalam kitab Ar-Ruh. Kisah tersebut adalah kisah tentang seorang anak (Fadl bin Muwafiq) yang kehilangan Ayahnya dan seorang anak (Ustman bin Saudah) yang kehilangan Ibunya.Kematian sang Ayah membuat Fadl bin Muwafiq mengalami kesedihan mendalam, sehingga setiap hari Fadl selalu mendatangi kuburan sang Ayah karena sangat merindukannya. Pergantian waktu membuat Fadl secara perlahan berhasil memulihkan rasa sedihnya, sehingga Fadl mengurangi intensitas kunjungannya ke kuburan sang Ayah.Suatu saat Fadl menziarahi kuburan sang Ayah. Fadl terserang rasa kantuk yang luar biasa dan akhirnya tertidur di depan pusara sang Ayah. Di dalam tidur, Fadl melihat pusara sang Ayah terbelah dan Ayahnya sedang duduk di dalam pusara lengkap dengan pakaian kafannya serta dengan kondisi bentuk dan warna sebagaimana manusia yang telah meninggal. Situasi tersebut membuat Fadl ketakutan dan memicu tangisan.Tetiba sang Ayah berkata, “Wahai Anakku, apa yang membuatmu mengurangi intensitas ziarahmu kepadaku?”Fadl menjawab pertanyaan Ayahnya dengan tubuh merinding dan berkata, “Apakah Ayah mengetahui kedatanganku di pusara Ayah?”“Setiap Alpa-mu dari kunjunganmu, Ayah mengetahuinya. Kebahagiaan Ayah di alam kubur adalah ketika engkau datang menziarahi Ayah dan tidak hanya Ayah yang bahagia, tetapi ahli-ahli kubur di sekitar Ayah juga bahagia karena mendapatkan sepercik kebahagian dari doa dan salammu,” ungkap sang Ayah. Sejak saat itu Fadl kembali meningkatkan intensitas kunjungannya ke pusara Ayahnya.Kisah lainnya bercerita tentang Utsman bin Saudah yang kehilangan Ibunya. Ibu Utsman adalah perempuan yang sangat rajin beribadah. Setiap hari sang Ibu selalu mengangkat kepalanya ke langit dan berdoa, “Wahai Dzat yang hanya kepada-Nya aku menggantungkan hidup dan matiku. Janganlah berikan Aku kematian yang hina dan buruk.” Ketika sang Ibu telah meninggal, Utsman menziarahi pusaranya setiap hari jumat untuk mendoakannya dan memintakan ampun untuknya & ahli-ahli kubur lainnya.Suatu malam setelah menziarahi sang Ibu, Utsman bertemu dengan sang Ibu di dalam mimpi. Terjadilah dialog antara Utsman dan sang Ibu yang telah meninggal.“Wahai Ibu, bagaimana kondisi Ibu di sana?” tanya Utsman.“Ketahuilah anakku, kematian adalah urusan yang sangat menyulitkan. Namun sebab anugerah Allah, Ibu diletakkan di barzakh yang sangat mulia dan lengkap dengan roihan serta nikmat-nikmat yang lain,” jawab sang Ibu.“Apakah Ibu ada hajat kepadaku?”, Tanya Utsman lagi.“Tentu. Jangan pernah berhenti untuk menziarahi Ibu dan mendoakan Ibu. Sesungguhnya Ibu sangat bahagia sebab kedatangannmu di hari Jumat. Setiap engkau datang, selalu ada suara yang mengabari Ibu bahwa anak Ibu telah mendoakan Ibu. Hal itu membuat Ibu dan ahli-ahli kubur di sekeliling Ibu sangat berbahagia”, ungkap sang Ibu.Wallahu a’lam.